KETIKA ANGIN BERHEMBUS
ketika angin berhembus tidak seperti biasanya
berisik ribut menerbangkan kertas koran bekas
menyibaktakteratur rambutku yang tak lagi hitam
ada warna perak petanda tuhan dengan setengah berbisik berkata:
hei zak
barangkali esok angin dan polutan tak lagi bisa terhisap
anak tak lagi bisa terpandang
istri tak lagi bisa beriring
tetangga ribut zak telah jadi debu, zak telah jadi debu
sambil terkekeh-kekeh dan menghisap rokok dengan nikmat
ada doa memang
tapi sekedar pelengkap
dan juga white board dengan sepenggal ayat yang ditulis tanpa mengindahkan kaidah
sungguh kita milik-Nya
dan akan kembali pada-Nya
ketika angin berhembus tidak seperti biasanya
aku hisap dalam-dalam
aku pandang anak, istri, tetangga, bunga-bunga pot
dalam diam.
semarang, 3 Agustus 2009
berisik ribut menerbangkan kertas koran bekas
menyibaktakteratur rambutku yang tak lagi hitam
ada warna perak petanda tuhan dengan setengah berbisik berkata:
hei zak
barangkali esok angin dan polutan tak lagi bisa terhisap
anak tak lagi bisa terpandang
istri tak lagi bisa beriring
tetangga ribut zak telah jadi debu, zak telah jadi debu
sambil terkekeh-kekeh dan menghisap rokok dengan nikmat
ada doa memang
tapi sekedar pelengkap
dan juga white board dengan sepenggal ayat yang ditulis tanpa mengindahkan kaidah
sungguh kita milik-Nya
dan akan kembali pada-Nya
ketika angin berhembus tidak seperti biasanya
aku hisap dalam-dalam
aku pandang anak, istri, tetangga, bunga-bunga pot
dalam diam.
semarang, 3 Agustus 2009
Komentar
Posting Komentar